Tampilkan postingan dengan label Liputan. Tampilkan semua postingan

Medsos Hadang Terorisme

Bebarapa hari lalu, media massa sempat digemparkan dengan peristiwa peledakan bom yang berada di Jalan M.H. Thamrin, tepatnya di sekitar kompleks pertokoan Sarinah, Jakarta Pusat. 31 orang turut menjadi korban dalam peristiwa tersebut.  Peristiwa ini juga menjadi perhatian netizen di dunia maya, khususnya pemuda. Reaksinya pun bermacam dari peristiwa tersebut. Mulai dari terkejut, kemudian doa dan harapan, serta berujung pada banyolan. Sejumlah netizen banyak yang beranggapan  bahwa teror telah gagal total. tetapi, rasa takut dan terteror masyarakat masih tetap ada.

Seperti yang diungkapkan oleh Paulus Wirutomo, Guru Besar Sosiolog Universitas Indonesia, bahwa rasa takut dan terteror masyarakat tetap ada, tetapi kemudian cepat menghilang dan kebanyakan reaksi tersebut justru berubah menjadi humor.

“Trauma masyarakat cepat hilang, karena terpengaruh budaya baru terkait dengan media sosial,” ungkap Paulus

Perkembangan media sosial yang ada di masyarakat justru meredakan ketakutan tersebut dengan adanya berbagai macam reaksi. Mulai dari hashtag yang menggugah semangat  dengan #WeAreNotAfraid, #KamiTidakTakut, #PrayForJakarta, maupun yang berbau humor #KamiNaksir. Adapula ragam meme  turut meramaikan media sosial yang mengundang gelak tawa tersendiri. Baik yang terkait dengan aksi terorisme maupun plesetan dari hashtag tersebut.

Meski begitu, Paulus berharap reaksi netizen tersebut tidak hanya berhenti hanya sampai pada candaan saja. Setidaknya, mulai membangun sistem kewaspadaan untuk menanggulangin masalah-masalah seperti itu dengan bantuan teknologi. Selain itu, peristiwa tersebut juga dapat menjadi pengingat untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia bahwa terorisme dapat terjadi kapanpun dan dimanapun.
Sabtu, 13 Februari 2016
Posted by Wira
Tag :

Branding Image, Pemuda dan Era Digital

Sobat Bolpen tahu tidak kalau branding image itu sangat penting loh di tengah era digital saat ini ! Apalagi pemuda juga bisa terlibat dalam branding image ini. Sebenarnya apa sih branding image itu ?

Irvan Indrayana
Irvan Indrayana, seorang Digital Branding Strategist, mengungkapkan Branding Image sendiri merupakan persepsi customer mengenai suatu brand yang dimiliki atau ditawarkan. Branding Image sendiri tersebut bertujuan untuk membentuk citra tertentu di masyarakat terhadap suatu produk atau jasa yang ditawarkan. Tak heran, banyak industri maupun profesional menerapkan branding image ini. Ini dikarenakan branding image sangat penting dalam mengembangkan sebuah brand dalam jangka panjang. Selain itu, branding image juga mampu menjalin hubungan  emosional antara penyedia jasa (profesional) dengan pelanggannya.

Agar tercapainya tujuan branding image ini, banyak branding strategist  memanfaatkan pemuda sebagai sarananya. Para branding strategist  ini mengamati bahwa banyak pemuda yang cukup sering menggunakan gadget di tengah perkembangan era digital seperti media sosial. Untuk itu, mereka memanfaatkan internet yang diintegrasikan dengan media sosial untuk menarik minat para pengguna gadget terhadap suatu produk atau jasa yang ditawarkan.

“Sebagai contoh, para pemuda saat ini memiliki kebiasaan mempublikasi kegiatan-kegiatan yang sedang dilakukan. Ketika sedang makan, jalan-jalan, atau kegiatan apapun melalui path, facebook, twitter, atau instagram. Setelah itu teman-temannya komentar, kemudian dibalas lagi. Jika hal ini dilakukan dengan mencantumkan kata Bogor dan melibatkan Bogor di dalamnya, maka tanpa disadari dan secara tidak langsung dapat membawa dampak terhadap keseluruhan brand Kota Bogor”, pungkasnya.
Jumat, 22 Januari 2016
Posted by Wira
Tag :

Gadget Rawan Sexting

Pesatnya pengaruh perkembangan teknologi dan aneka ragam gadget mendorong untuk memanfaatkannya dengan benar. Namun, tak sedikit pula juga yang menyimpang dari perkembangan teknologi loh Sobat Bolpen seperti halnya dengan fenomena sexting. Sexting sendiri merupakan istilah yang dipakai untuk aktivitas mengirim atau mengunggah foto/video atau mengirim pesan teks yang mengandung konten seksual. Bahkan, banyak pemuda juga turut melakukan sexting entah untuk sekadar narsis maupun dengan pasanganya. Nah, sebenarnya seberapa besar sih fenomena sexting itu di Indonesia ?

Menurut seorang sosiolog UI, Dr. Ir. Fu Xie, Sexting sendiri tidak lepas dari perkembangan teknologi saat ini yang semakin murah dan canggih. Hal itu juga tidak lepas dari arus globalisasi yang mengarahkan pemuda untuk melihat fenoma di barat maupun negara ikon (Jepang, Korea) yang menyebabkan mengikisnya konsep moral pada pemuda saat ini. “Fenomena ini tak lepas dari perkembangan teknologi maupun arus globalisasi yang menimpa pemuda dimana pemuda secara hormonal mudah terstimulasi dengan konten seksual,” ungkap Fu Xie kepada Young Radar.

Beberapa orang yang melakukan sexting beralasan bahwa sexting sebagai tempat untuk memperoleh pengakuan dari orang lain melalui media sosial. Karena dengan melakukan hal tersebut, seseorang akan mudah memperoleh perhatian dari orang lain. Namun, tak sedikit pula yang merasa ketakutan bila fotonya disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab seperti rekayasa foto.

Untuk mencegah itu, peran keluarga dan teman dapat membantu pelaku sexting untuk berhenti dari hal tersebut. Menurut Kepala Biro Psikolog Rumah Cinta Bogor, Retno Lelyani Dewi, Keluarga harus memposisikan diri untuk tidak menyalahkan pelaku sexting, tetapi memahami penyebab terjadinya hal tersebut. Begitu juga dengan teman, teman harus dapat mengingatkan dan memberikan motivasi pelaku sexting untuk tidak mengulanginya lagi. “Keluarga dan teman bisa menjadi sarana pelaku sexting untunk tidak mengulangi kebiasaannya untuk sexting,” ungkapnya.
Kamis, 21 Januari 2016
Posted by Wira
Tag :

Popular Post

Instagram
Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Bolpen Bolpenan -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -