Gadget Bekas, Why Not

Sejak nilai Rupiah meroket hingga Rp 14040 per Dollar Amerika, Ekonomi Indonesia mengalami kenaikan harga, tak terkecuali dengan barang elektronik, khususnya gadget. Sobat Muda tentu merasa bimbang dengan kondisi ini karena keinginan untuk memiliki gadget baru dan canggih harus tertunda akibat naiknya harga. Tapi, Sobat Bolpen tak perlu khawatir karena membeli gadget second bisa menjadi solusi Sobat Muda untuk memiliki gadget Hightech dengan harga yang terjangkau. Tentu saja, membeli gadget second diperlukan tips agar suatu saat tidak menyesal dikemudian hari. Nah, apa saja sih tipsnya ?

1. Belilah yang Sesuai dengan Kebutuhan
Harga murah memanglah sangat menggiurkan. Cobalah untuk mempertimbangkan terlebih dahulu sejauh mana barang tersebut dibutuhkan agar tidak menghabiskan uang secara sia-sia.

2. Mensurvey Tempat Membeli
Tempat membeli bisa menjadi patokan Sobat Muda dalam bertransaksi gadget second. Bisa dengan mengunjungi sebuah pusat elektronik langsung ataupun melalui situs onlineshop. Tapi ingat, saat bertransaksi melalui onlineshop usahakan untuk dapat bertemu langsung dengan pembeli atau menggunakan situs onlineshop ternama yang terpercaya.

3. Menjajal Barang yang Dibeli
Setelah bertemu dengan pembeli jangan lupa untuk mengecek barang yang akan dibeli. Tanyakan sejauh mana kondisi barang tersebut digunakan maupun cara penggunaan barang tersebut. Jangan lupa pula dengan asesoris yang disematkan bersama gadget tersebut karena dapat mendukung Sobat Muda dalam menikmati barang tersebut.

4. Cobalah untuk Menawar
Menawar harga bisa menjadi keuntungan bagi Sobat Bolpen untuk memperoleh gadget second. Pendekatan kepada penjual sangatlah disarankan untuk memperoleh harga yang murah. Agar mudah dalam menawar, bagi Sobat Bolpen laki-laki bisa melakukan pendakatan dengan penjual perempuan ataupun sebaliknya. Dengan begitu, pendekatan penjual-pembeli akan mudah terciptanya komunikasi dengan lawan bicara.

Nah, itu dia Sobat Bolpen mengenai tips membeli gadget second yang didasarkan pada survey langsung dengan penjual gadget di Plaza Jambu Dua dan Mall BTM, maupun pengalaman pribadi penulis bertransaksi gadget second. So, 
buat Sobat Bolpen yang ingin memiliki gadget second tak perlu takut lagi selagi cermat dalam membeli.
Senin, 14 September 2015
Posted by Wira
Tag :

Alfi Irfan, Entrepreneur Muda Pertanian


Punya keinginan besar untuk mengembangkan pertanian, membuat Alfi Irfan tertarik untuk membuat AgriSocio. Alfi, sapaanya merupakan pendiri dan CEO social enterprise ini. Dirinya telah mendirikan AgriSocio sejak Oktober 2013 bersama beberapa rekannya semasa kuliah.
“AgriSocio ini adalah perusahaan profit yang bergerak dalam pengembangan pertanian”, ujar Alfi, Alumni Institut Pertanian Bogor angkatan 46.


Awalnya, ide AgriSocio ini merupakan hasil penilitiannya ketika masih kuliah tentang kewirausahaan bahwa Indonesia memiliki pengusaha kurang dari dua puluh persen. Selain itu, lebih dari 72.00 desa di Indonesia memiliki potensi pertanian. Sayangnya, banyak dari desa tersebut mengalami kendala dalam mengolah produk pertanian seperti teknologi, modal, dan pemasaran.


Ini lah yang mendorong Alfi untuk menjadi pengusaha dengan memperdayakan petani, mengembangkan kawasan desa, dan menghasilkan produk berbasis kearifan lokal. Alfi kemudian memulai pengembangan di Desa Benteng, Bogor dengan membuat lahan percontohan untuk bercocok tanam kepada petani dan memberikan edukasi kepada para petani di desa tersebut. Selain itu, Alfi juga memperdayakan para isteri petani dengan memproduksi produk minuman rempah berlabel Indorempah.


Alhasil, prestasi nasional dan internasional pun diraihnya dari pengembangan desa yang digarapnya seperti, Award Social Entrepreneurship dari Kementrian Perdagangan, The Best Team dalam Danone Young Social Entrepreneur, The Best Audition Social Entrepreneurship dari Jokana Foundation, hadiah S$ 10.000 dari Singapore International Foundation dalam ajang Young Social Entrepreneurs dan masih banyak lagi.


Alfi menambahkan semua prestasi tersebut tidak lah diperoleh dengan mudah. Dibutuhkan usaha dan kerjakeras untuk meraihnya. Oleh karena itu, Sobat Muda harus memanfaatkan waktu yang dimiliki karena sangat berharga dan tulislah mimpi yang ingin dicapai agar semakin terpacu untuk bekerja keras.




Sabtu, 12 September 2015
Posted by Wira
Tag :

Marsha Chikita Fawzi, Animator yang Juga Jago Musik

Marsha Chikita Fawzi (26), animator muda Indonesia yang dikenal lewat karyanya yang ikut bekerja dalam pembuatan film animasi seri Upin Ipin. Film animasi seri ini awalnya merupakan program magang semasa berkuliah di Malaysian Multimedia Univesity (MMU). “dulu bisa jadi animator,” ujar Chiki yang merupakan putri pasangan Ikang Fawzi dan Marissa Haque

Pengalamannya menjadi seorang animator muda tak lepas dari kehidupan keluarganya yang menyukai seni. Dari kecil, perempuan kelahiran  Jakarta, 28 Januari 1989 ini sangat gemar dengan menggambar dan musik. Karena tahu perpaduan menggambar dengan teknologi menghasilkan seni yang bagus, Chiki kemudian memutuskan dengan menjadi seorang animator dengan menempuh pendidikan di Malaysia.

Meskipun suka dengan dunia animator, suka dan duka juga menyelimutinya. “Suka menjadi animator adalah karena menggambar animasi sudah menjadi bagian dari hidupnya dan dukanya menjadi seorang animator adalah menjadi animator juga membutuhkan kerjakeras dalam menghasilkan karya,” tambahnya.

Saat ini, Chiki sedang sibuk dengan proyek animasinya yang berjudul Goceks dengan bekerja sama dengan Mizan, yang mengisahkan sepak bola jalanan anak dengan tema kehidupan masa depan. Adapula, Chiki juga sibuk dalam membuat video klip single pertama berjudul Bulan di Telinga yang akan dirilis tahun ini.

Chiki menambahkan bahwa untuk Sobat Muda yang gemar animasi adalah untuk terus berkarya dan berkolaborasi dengan orang lain. “Keep doing with your love and keep doing with your like, terus berkarya dan jangan takut berkolaborasi dengan orang lain karena itu akan menghasilkan hasil yang baik dan berguna di masa depan, pungkasnya.


Rabu, 08 Juli 2015
Posted by Wira
Tag :

Pro dan Kontra Berjualan di Areal Kampus

Kegiatan perkuliahan memang sangatlah melelahkan. Mahasiswa harus rela kuliah mulai pagi hingga malam hari. Di tengah kondisi tersebut, tak sedikit mahasiswa harus melupakan sarapan demi datang tepat waktu di kampus. Sedikit berlebihan memang, kegiatan perkuliahan yang begitu padat membuat mahasiswa sering didera penyakit maag karena telat makan. Tak jarang kondisi ini sering dimanfaatkan mahasiswa untuk dijadikan lahan bisnis yang menjanjikan, salah satunya adalah menjualkan jajanan di areal kampus seperti, donat, tahu goreng, bakpau, dan semacamnya.

Harga yang ditawarkan pun cukup terbilang murah. Cukup mulai Rp 2000, mahasiwa sudah dapat menikmati jajanan yang cukup untuk mengganjal perut. Selain terbilang murah, kemudahan dalam memperoleh jajanan juga menjadi alasannya. Jeda kuliah yang diterapkan kampus membuat sebagian mahasiswa mengambil jalan praktis membeli jajanan yang dijajakan oleh mahasiswa di areal kampus. Bahkan di dalam kelas sekalipun.

Di tengah kondisi yang memberikan dampak positif bagi mahasiswa, penjualan jajanan di areal kampus juga memberikan dampak negatif bagi sebagian dosen. Sebagian dosen merasa terganggu dengan adanya mahasiswa yang makan saat perkuliahan berlangsung. Tak jarang, kondisi ini juga membuat dosen emosi dan tidak melaksanaakan perkuliahan. Walaupun tidak dapat disalahkan secara keseluruhan, hadirnya mahasiswa yang menjual jajanannya di areal kampus juga dapat dipersalahkan. Bisa saja, mahasiswa yang menjajakan jajanan dapat membuat mahasiswa lain terbiasa untuk melakukan kebiasaan buruk berupa makan saat perkuliahan berlangsung karena alasan tak sempat untuk sarapan. Padahal telah di atur dalam kontrak kuliah untuk tidak makan dan minum selama perkuliahan berlangsung.


Tidak ada salahnya mahasiswa berjualan di areal kampus. Bahkan, kegiatan ini juga mendorong mahasiswa untuk giat berwirausaha. Asalkan, mahasiswa yang menjalankan bisnis menjajakannya pada saat jeda perkuliahaan. Ini dilakukan agar meminimalisasi mahasiswa untuk makan saat perkuliahan berlangsung. Selain itu, dengan berlakunya aturan tersebut pelaksanaan perkuliahaan dapat berlangsung lancar tanpa adanya hal-hal yang mengganggu dosen untuk melaksanakan perkuliahan.

Selasa, 21 April 2015
Posted by Wira

MIMI CUCU, Cara Unik Minum Susu


Menu Andalan
Minum susu mungkin sudah tidak asing lagi bagi sebagian orang. Namun, ada cara unik dalam menikmati susu, salah satunya seperti yang dilakukan oleh resto MIMICUCU. Resto yang berlokasi di Jalan Lodaya 1 No.1 ini menyajikan susu dengan kemasan yang unik, yaitu dengan menggunakan botol dot. Ide menggunakan botol dot ini lahir dari pasangan Bayu Kresnapati (25) dan Paramitha Ardhana (24). “Awalnya dulu ingin membuat usaha yang unik, sampai akhirnya kami mendapat ide untuk menggunakan botol dot bayi sebagai wadahnya,” ujar Bayu, saat penulis mewawancarai beberapa minggu yang lalu.
Nama resto yang berdiri sejak Maret 2013 ini sendiri berasal dari kebiasaan bayi yang suka minum susu dengan menggunakan botol dot. Bayu mengatakan bahwa awalnya setelah menuntukan ide unik untuk usahanya, ia sempat kebingungan dalam menentukan nama yang tepat dengan idenya. Karena botol dot erat kaitannya dengan bayi, ia kemudian memutuskan untuk memberi nama usahanya dengan nama MIMICUCU.

Seperti namanya, resto ini menyajikan aneka hidangan yang berbahan utama susu. Seluruh menu minumannya pun dikemas unik dengan menggunakan botol dot yang berwarna-warni. Pengunjung tidak perlu merasa malu untuk menikmati susu dengan botol dot ini, karena pengunjung dapat menikmati susunya cukup melalui sedotan tanpa harus mengempengnya secara langsung. Aneka rasa susu yang ditawarkan MIMICUCU pun bervariasi seperti rasa buah, green tea, dan aneka rasa kopi. Selain minuman, MIMICUCU juga memiliki makanan yang menjadi primadona pengunjungnya. Roti bakar menjadi salah satu makanan favorit pengunjung MIMICUCU. Roti bakar ini tersedia dalam rasa coklat maupun keju dengan tambahan topping lainnya seperti kacang, marsmallow, dan keju. Untuk mempercantiknya, roti bakar ini disajikan di atas talenan kayu bersama pisau makan dan garpu dengan gagang kayu.

Suasana MIMICUCU
Selain hidangan, tempat MIMICUCU juga tidak kalah uniknya. Tempat MIMICUCU sendiri mengusung konsep vintage dengan dinding berlapis cat berwarna kuning muda. Ada pula slogan yang terpampang di dinding bertuliskan  You are Never Too Old to MIMICUCU . “Slogan tersebut bertujuan agar mengajak pengunjung untuk selalu minum susu tanpa harus memandang umur,” tambah Bayu, alumni Universitas Padjajaran Bandung. Puas menikmati hidangan, pengunjung juga dapat berfoto ria di spot foto yang telah disediakan MIMICUCU dengan bingkai khusus yang melekat pada tembok.

Untuk soal harga, MIMICUCU bisa menjadi resto alternatif pembaca yang suka berwisata kuliner dengan harga murah. Cukup Rp 6000 pengunjung sudah dapat menikmati sebotol dot susu ataupun roti bakar. Banyak pengunjung yang tertarik untuk menikmati menu murah yang ditawarkan resto ini, seperti halnya Anis Khairunnisa (20) dan Muhammad Yeri Termizal (20). “Biasanya resto susu lainnya menggunakan gelas, tapi MIMICUCU justru menyajikan susunya dengan menggunakan botol dot,” ungkap Anis. Lain lagi dengan Yeri, mahasiswa Diploma IPB ini tertarik untuk menikmati menu di MIMICUCU karena lokasinya yang juga dekat dengan lingkungan kampus. “karena dekat dari kampus, tidak ada salahnnya untuk mencoba, apalagi namanya juga unik,” ungkapnya.


Minggu, 05 April 2015
Posted by Wira
Tag :

Masjid Atta'awun, Masjid Kubah Jamur di Puncak Bogor

Siapa yang tak kenal dengan Masjid Atta’awun ? Masjid yang terletak di Puncak Bogor ini merupakan masjid yang populer dengan kubahnya yang berbentuk jamur. Masjid yang didirikan sejak tahun 1998 ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah Puncak Bogor. Untuk menuju masjid ini, wisatawan cukup menempuh waktu 45 menit dari Ciawi dengan transportasi umum ataupun pribadi ke arah jaur puncak. Sesampainya di puncak, wisatawan akan disuguhkan oleh pemandangan Masjid Atta’awun yang dikelilingi oleh kebun teh.

Nama Masjid Atta’awun sendiri memiliki arti secara harfiah adalah gotong royong. Pembangunan masjid ini berawal dari terkumpulnya dana sebanyak 36 miliar Rupiah dari 50.000 Kepala Keluarga (KK) Se-Jawa barat. “Setelah dana terkumpulkan, dibangunlah sebuah monumen kebersamaan berupa masjid yang lebih bermanfaat bagi masyarakat bagi masyarakat sekitar,” ujar H. Andi J.Fuadi, Wakil Ketua DKM Atta’awun.

Kemegahan Masjid Atta’awun tak dapat diragukan lagi. Arsitektur bangunan masjid ini tampak kokoh yang dipadu dengan ornamen Sunda. Masjid yang berlantai dua ini memiliki kaca tembus pandang yang membuat wisatawan langsung dapat melihat pemandangan kebun teh yang luas. Adapula irigasi dari Masjid Atta’awun ini berasal dari air yang mengalir dari puncak gunung yang dialirkan di sekitar lokasi masjid. Puas menikmati suasan masjid, wisatawan dapat menikmati kuliner maupun pernak-pernik oleh-oleh yang tersedia di depan areal masjid.

Masjid Tampak Bagian Depan



Posted by Wira
Tag :

Nurman Ramdani, Alumni Diploma IPB Peraih Juara 1 IAC

Nurman Ramdhani
Membuat film sudah menjadi hobi tersendiri bagi laki-laki kelahiran Bogor, 26 Maret 1992 ini. Betapa tidak Nurman Ramdani pernah menyabet juara 1 dalam ajang pencarian bakat IPB Art Contest pada 2012 ini dalam membuat film berawal dari coba-coba. “Dulu buat film awalnya cuma coba-coba aja waktu SMA, eh sekarang malah jadi hobi”, ujar Nurman yang  merupakan alumni Program Keahlian Komunikasi angkatan 47. Nurman mulai membuat film ketika Nurman mulai mengikuti lomba film yang diadakan oleh surat kabar Pikiran Rakyat saat itu. Tak disangka dari lomba ini  Nurman masuk dalam juara sepuluh besar se-Jawa Barat. Berkat prestasi ini kemudian ikut mengharumkan nama sekolahnya, SMA 1 Sumedang dan menjadi dorongan sekolahnya untuk membentuk ekstrakulikuler film yang sebelumnya belum pernah ada. Merasa prestasinya memberikan pengaruh baik Nurman mulai mendalami dunia film. Nurman kemudian melanjutkan pendidikan di Program Keahlian Komunikasi Diploma IPB pada tahun 2010 setelah lulus SMA. Disinilah Nurman mulai meningkatkan prestasinya.

Hampir selama 3 tahun menempuh pendidikan di Program Keahlian Komunikasi Diploma IPB banyak pengalaman yang Nurman dapatkan. Semua pengalaman tersebut tak lepas dari Komunikasi. Bahkan film yang dibuatnya tak lepas dari kehidupan Komunikasi.Termasuk film yang mengantarkannya memperoleh juara 1 dalam IPB Art Contest (IAC) pada tahun 2012. IAC sendiri merupakan acara tahunan yang sering diadakan di IPB yang diikuti oleh seluruh jurusan jenjang S1 dan D3. Saat itu film yang dibuatnya berjudul KOST. Judul KOST ini sebenarnya merupakan kepanjangan dari Ketika Orang Susah Terbiasa. Nurman mengungkapkan bahwa film yang dibuatnya ini tidak lepas dari kehidupan pribadinya. Film KOST tersebut menceritakan tentang orang yang mengalami gegar budaya (culture shock). Gegar budaya sendiri merupakan perasaan disorientasi, kebingungan, dan perubahan emosi yang terjadi ketika seseorang berkunjung atau tinggal di budaya yang berbeda. Tak dapat dipungkiri gegar budaya hampir dirasakan setiap orang, begitu juga Nurman. Nurman merasa film KOST merupakan curahan hatinya terhadap gegar budaya yang dirasakan dirinya dan teman-temannya. Nurman sendiri mulai merasa mengalami gegar budaya ketika dirinya sekolah di Sumedang. Nurman merasa selama bersekolah di Sumedang dirinya mengalami banyak perbedaan meskipun tinggal di daerah yang memiliki budaya Sunda. “Sundanya Bogor sama Sundanya Sumedang itu beda banget”, ungkapnya dengan tawa. Nurman juga mengungkapkan banyak teman-temanya juga mengalami gegar budaya. Terutama teman-teman kuliahnya ketika masih berkuliah di Diploma IPB. Banyak teman-teman Nurman mengalami gegar budaya yang rata-rata semua berasal dari luar daerah Bogor. Inilah alasan Nurman membuat film yang bertemakan tentang gegar budaya.

Nurman tidak menyangka filmnya berjudul KOST akan membuahkan hasil yang bagus. Saat mengikuti IAC, Nurman merasa kurang percaya diri karena banyak film yang lebih baik dari dirinya. Bayangkan saja peserta yang berpartisipasi pun juga banyak dari seluruh jurusan IPB dari jenjang D3 hingga S1. Nurman sendiri masih merasa ketika itu pengalamannya kurang banyak. Mulai dari teknik pengambilan gambar, alur cerita, dan karakter tokoh. Tak disangka dari seluruh peserta yang berpartisipasi dirinya terpilih menjadi juara 1 pada tahun 2012. “Nggak percaya dulu dapet juara 1, padahal masih banyak film yang keren dari film KOST”, imbuhnya yang saat ini aktif menjadi asisten dosen di Program Keahlian Komunikasi Diploma IPB.
Senin, 24 November 2014
Posted by Wira
Tag :

Popular Post

Instagram
Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Bolpen Bolpenan -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -